SOSIO-TEOLOGIS: Konsep Umat Pilihan Allah Dalam Penaklukan Bangsa Kanaan (Ul 7:1-11) Sebagai Representatif Sikap Gereja Terhadap Pluralitas

Authors

  • Gandi Wibowo
  • Bara Siahaan

Keywords:

Israel, Socio-theology, Church, Pluralism, Sosio-teologis, Gereja, Pluralisme

Abstract

Konsep Israel sebagai ”Umat Pilihan Allah” menjadi predikat yang dimiliki oleh gereja, sebagai perwujudan identitas dan eksistensi dirinya. Namun di tengah tantangan pluralisme agama, sosioculture dan kenyataan multikulturalisme masa kini konsep umat pilihan Allah mendapat tekanan yang sangat kuat. Kendati bertujuan untuk menampilkan eksistensi dan identitasnya secara nyata tetapi reaksi-reaksi yang muncul lebih condong mengacu pada suatu sikap beragama yang ekslusif bahkan  dalam menilai hubungan sosialnya dengan agama-agama lain.

Dalam Kitab Ulangan 7:1- 11, relevansi kontekstualnya dengan kehidupan Gereja dalam konteks masyarakat yang plural bukan pada keunikan umat pilihan Allah ”bahwa Allah telah memilih Israel” (ayat 6) melainkan pada ”karena Tuhan mengasihi” dan ”karena Allah setia” (ayat 8,9). Sehingga interpretasi mengenai konsep umat pilihan Allah bertolak dari realitas kasih dan kesetiaan Tuhan maka itu berarti harus ada upaya pendobrakan ”tembok-tembok” teologis dan doktrinal yang selama ini menghalangi Gereja membangun relasinya secara sosiologis dan teologis dengan masyarakat yang berbeda.

Gereja membangun identitas teologisnya sebagai umat pilihan Allah yang terbuka dan komunikatif. Secara sosiologi, identitas semacam itu bukanlah sesuatu yang statis melainkan senantiasa bergerak dan berkembang, justru karena mempunyai struktur yang terbuka. Di sinilah kekhususan suatu identitas yang terbuka, yaitu kenyataan bahwa ia bergerak, selalu dalam proses menjadi, selalu mengevaluasi dan mentransformasi dirinya. Di dalam keseluruhan tindakan ini maka Gereja selaku umat Allah tetap pada identitas teologis dan konsisten dengan panggilan Missio Dei.

 

 

The concept of Israel as God's Chosen People has become a predicate for the church, as the embodiment of its identity and existence. However, amidst the challenges of religious pluralism, sociocultural and the reality of multiculturalism today, the concept of God's chosen people is under very strong pressure. Although it aims to show its existence and identity in real terms, the reactions that appear tend to refer to an exclusive religious attitude even in assessing its social relations with other religions.

In Deuteronomy 7: 1- 11, its contextual relevance to the life of the Church in the context of a plural society is not on the uniqueness of God's chosen people that God has chosen Israel (verse 6) but on "because God loves" and because God is faithful ( paragraph 8, 9). So that the interpretation of the concept of the chosen people of God departs from the reality of God's love and faithfulness, it means that there must be an effort to break down theological and doctrinal "walls" that have hindered the Church from building its sociological and theological relationships with different societies.

The church establishes its theological identity as an open and communicative chosen people of God. Sociologically, such an identity is not something static but is constantly moving and developing, precisely because it has an open structure. This is where the specificity of an open identity, namely the fact that it is moving, is always in the process of becoming, is always evaluating and transforming itself. Throughout this whole act, the Church as God's people remains theological identity and consistent with the calling of Missio Dei.

Downloads

Published

2021-02-05