Asimilasi dan Akulturasi Penyembahan Baal di Bangsa Israel: Pendekatan Sosio Teologis menurut Teori Multi Stage Assimilation Milton M. Gordon

Authors

  • Gandi Wibowo

Keywords:

Baal, Multi stage assimilation, Socio-theological, Asimilasi bertahap, Sosio-teologis

Abstract

Keistimewaan Israel sebagai bangsa pilihan Tuhan tidaklah membuat hati bangsa ini terpaut dan taat kepada Allah. Israel di masa Perjanjian Lama ternyata sulit melepaskan diri dari keterikatan penyembahan Baal. Hingga akhir masa keruntuhan Kerajaan Israel Utara dan Selatan disertai dengan masa pembuangan Babel membuat praktek penyembahan ilah asing ini perlahan surut secara drastis. Pemahaman mengenai fenomena ini di dalam konteks teologis normatif biasanya melihat penyembahan Baal sebagai dosa yang muncul begitu saja tanpa melihat proses asimilasi dan akulturasi keyakinan Israel. Tetapi pendekatan dari sisi sosioteologisakan membuat pemahaman mengenai fenomena penyembahan Baal di Israel Kuno menjadi lebih jelas. Baal sebagai dewa kesuburan orang Kanaan sudah dikenal luas hingga ke Mesir Kuno terutama di bagian utara. Adopsi Baal sebagai dewa kesuburan memiliki aspek politis bagi Mesir Kuno untuk membangun aliansi dengan bangsa sekitar, selain karena aspek spiritual dalam politeisme yang mereka bangun. Perbudakan Israel di Mesir mempengaruhi pola pikir Israel dan kecenderungan perilaku mereka untuk kompromi terhadap penyembahan ilah asing. Kuatnya budaya asing masuk ke dalam Israel karena proses asimilasi bertahap dari pernikahan hingga puncaknya menjadi dewa nasional orang Israel di zaman Ahab.

 

 

The excellence of Israel as God's chosen nation does not make the hearts of this nation attached to and obey God. Israel in Old Testament times found it difficult to break away from the idolatry of Baal worship. Until the end of the Kingdoms of Northern and Southern Israel, accompanied by the Babylonian exile, this foreign god-worshiping practice gradually declined drastically. Understanding this phenomenon in a normative theological context usually sees Baal worship as a sin that just arises without seeing the process of assimilation and acculturation of Israeli beliefs. But a socio-theological approach will make the understanding of the phenomenon of Baal worship in Ancient Israel clearer. Baal as the god of fertility of the Canaanites was widely known to Ancient Egypt, especially in the north. The adoption of Baal as a fertility god had a political aspect for Ancient Egyptians to build alliances with surrounding nations, apart from the spiritual aspect of the polytheism they built. Israel's slavery in Egypt influenced the mindset of Israelis and their behavioral tendency to compromise the worship of foreign gods. The strength of foreign culture entered Israel due to the gradual assimilation process from marriage to the climax of becoming the national god of the Israelites in Ahab's day.

Downloads

Published

2021-02-05